Pada suatu hari, seorang raja di sebuah kerajaan menyelenggarakan sayembara melukis dengan hadiah yang besar. Maka segenap pelukis di negeri itu pun berlomba-lomba mengikuti sayembara tersebut. Untuk memudahkan, sang raja membentuk satu kepanitiaan, yang bertugas menyeleksi 2 buah lukisan yang terbaik untuk diserahkan kepada raja, dimana rajalah kemudian yang menentukan pemenangnya.
Maka, terpilihlah 2 buah lukisan. Lukisan itupun di pajang di alun-alun, sehingga masyarakat bisa menikmatinya dengan leluasa.
Lukisan pertama, sebuah lukisan pemandangan alam. Terdapat gunung dengan pucuk-pucuk pohon yang indah, memayungi sebuah danau biru yang sejuk. Langit tampak cerah, dan bergerombol burung tengah terbang di angkasa. Sebuah nuansa damai yang ideal.
Adapun lukisan yang kedua, adalah sebuah lukisan badai. Hujan turun sangat deras, membuat tanah yang gersang terkikis menjadi banjir bandang yang dahsyat. Sebuah sungai meluap, air terjunnya memuncratkan air yang melewati debit maksimumnya. Sementara, di langit petir menyambar-nyambar.
Seluruh warga yang menyaksikan hal tersebut sudah memastikan, bahwa lukisan pertamalah yang bakal memenangi sayembara tersebut. Ternyata, dugaan mereka salah. Pemenanganya adalah lukisan kedua.
“Perhatikan lukisan itu,” kata sang raja. “Ditengah badai, ternyata ada sebuah sarang burung yang terdapat di bawah air terjun. Di sarang tersebut, ada sekor induk yang tengah memberi makan anak-naknya dengan penuh cinta kasih”.
Itulah damai yang sesungguhnya. Ketika kita berhasil menciptakan sesuatu yang membahagiakan di tengah kemelut yang menimpa kita.
Oleh : Afifah Afra
Tidak ada komentar :
Posting Komentar