
Setelah akad diucapkan, kecupan kening penanda halalnya hubungan dilakukan, maka akan timbul berbagai macam perasaan pada dua pasang sejoli yang baru mengikrarkan janji sucinya. Bayangan akan keindahan membina cinta dengan sepasang kekasih sudah didepan mata.
Bila saya bertemu anda pada saat itu ada dua hal yang akan saya katakana kepada anda, semoga Alloh memberkahi pernikahan anda, selanjutnya saya akan mengatakan kepada anda..bersiaplah.
Saya yakin anda pernah bahkan sering melihat di televisi yang kadang membuat kita tidak habis pikir, dua pasangan artis yang sedang naik daun, dari segi face sama-sama menawan, harta juga bisa dibilang lebih dari cukup. Kenapa begitu mudahnya mereka melakukan perceraian selang beberapa bulan kemudian. Aneh ? begitu mungkin kata anda, berbagai macam tesis dikemukakan oleh para pakar infotainment, tesis terbanyak yang sering saya dapatkan adalah karena orang ketiga. Betulkah?
Satu hal yang harus kita pahami betul, bahwa pasangan yang berada di samping kita sekarang ini bukanlah seorang bidadari atau malaikat yang tanpa cela.
Walaupun istri kita memakai jilbab lebar, bahkan bercadar, atau suami kita berjenggot atau pimpinan suatu perusahaan atau instansi..tetap saja mereka adalah manusia.
Kesalahan terbesar kita adalah ketika kita menuntut mereka untuk menjadi seperti yang kita inginkan, ketika dua orang saling menuntut..yang terjadi adalah pertempuran, istilahnya kamu harus tunduk padaku.
Sering kali kita terkejut dengan perilaku pasangan, jika anda seorang yang pefectsionis bersiaplah dengan pasangan yang seringkali berbeda 180 derjat dari persepsi anda.
Ada seorang wanita yang kita anggap sangat anggun, ternyata setelah wanita itu bersanding dengan kita, keanggunan itu memudar ketika kita tahu ternyata wanita tersebut tenyata mendengkur disebelah kita. Atau ketika kita kagum dengan seorang pria yang sangat maskulin, ternyata sangat takut dengan kecoa ketika sudah serumah dengan kita.
Karena itulah jangan mudah terkejut…
Tuntutan kita terhadap pasangan kita kadang terlalu banyak bahkan seringkali tidak proporsional.
Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah, rawatlah bukan tuntutlah. Walaupun istri kita mungkin mendengkur ketika tidur, jangan dengar dengkurnya saja..lihatlah wajahnya, wajah yang harus bergelut dengan asap dapur karena berusaha untuk menyiapkan hidangan terbaik bagi kita.
Kunci dari sebuah hubungan adalah saling merawat, dibanding mencoba membuat pasangan agar seperti yang kita inginkan, akan lebih baik ketika kita merawat kelebihan pasangan kita. Kita rawat dengan bumbu-bumbu cinta..kita buat suasana seromantis mungkin dirumah kita.
Maka surga impian itu tercipta …
Suasana saling membangun bukan menuntut, suasana saling belajar bukan mencela.
Itulah resiko dari cinta, bukan hanya berani jatuh cinta, tapi juga bertanggung jawab dengan perasaan cinta kita.
Saya menunggu kabar dari anda, sepasang sayap yang tak pernah patah, bersama menggapai impian dengan cinta.
Bila saya bertemu anda pada saat itu ada dua hal yang akan saya katakana kepada anda, semoga Alloh memberkahi pernikahan anda, selanjutnya saya akan mengatakan kepada anda..bersiaplah.
Saya yakin anda pernah bahkan sering melihat di televisi yang kadang membuat kita tidak habis pikir, dua pasangan artis yang sedang naik daun, dari segi face sama-sama menawan, harta juga bisa dibilang lebih dari cukup. Kenapa begitu mudahnya mereka melakukan perceraian selang beberapa bulan kemudian. Aneh ? begitu mungkin kata anda, berbagai macam tesis dikemukakan oleh para pakar infotainment, tesis terbanyak yang sering saya dapatkan adalah karena orang ketiga. Betulkah?
Satu hal yang harus kita pahami betul, bahwa pasangan yang berada di samping kita sekarang ini bukanlah seorang bidadari atau malaikat yang tanpa cela.
Walaupun istri kita memakai jilbab lebar, bahkan bercadar, atau suami kita berjenggot atau pimpinan suatu perusahaan atau instansi..tetap saja mereka adalah manusia.
Kesalahan terbesar kita adalah ketika kita menuntut mereka untuk menjadi seperti yang kita inginkan, ketika dua orang saling menuntut..yang terjadi adalah pertempuran, istilahnya kamu harus tunduk padaku.
Sering kali kita terkejut dengan perilaku pasangan, jika anda seorang yang pefectsionis bersiaplah dengan pasangan yang seringkali berbeda 180 derjat dari persepsi anda.
Ada seorang wanita yang kita anggap sangat anggun, ternyata setelah wanita itu bersanding dengan kita, keanggunan itu memudar ketika kita tahu ternyata wanita tersebut tenyata mendengkur disebelah kita. Atau ketika kita kagum dengan seorang pria yang sangat maskulin, ternyata sangat takut dengan kecoa ketika sudah serumah dengan kita.
Karena itulah jangan mudah terkejut…
Tuntutan kita terhadap pasangan kita kadang terlalu banyak bahkan seringkali tidak proporsional.
Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah, rawatlah bukan tuntutlah. Walaupun istri kita mungkin mendengkur ketika tidur, jangan dengar dengkurnya saja..lihatlah wajahnya, wajah yang harus bergelut dengan asap dapur karena berusaha untuk menyiapkan hidangan terbaik bagi kita.
Kunci dari sebuah hubungan adalah saling merawat, dibanding mencoba membuat pasangan agar seperti yang kita inginkan, akan lebih baik ketika kita merawat kelebihan pasangan kita. Kita rawat dengan bumbu-bumbu cinta..kita buat suasana seromantis mungkin dirumah kita.
Maka surga impian itu tercipta …
Suasana saling membangun bukan menuntut, suasana saling belajar bukan mencela.
Itulah resiko dari cinta, bukan hanya berani jatuh cinta, tapi juga bertanggung jawab dengan perasaan cinta kita.
Saya menunggu kabar dari anda, sepasang sayap yang tak pernah patah, bersama menggapai impian dengan cinta.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar