Hampir semua produsen susu formula saat ini beramai-ramai mengusung isu AA dan DHA untuk mempengaruhi konsumen agar membeli produknya. Diiklankan bahwa dengan AA dan DHA yang terkandung di dalam susu formula itu, anak bisa cerdas, bahkan jenius.AA dan DHA dalam susu itu membantu pertumbuhan otak bayi sehingga fungsi otak menjadi optimal. Saat ini, seolah tidak berguna jika ramuan susu yang mereka buat tidak disuplementasi dengan AA dan DHA. Tak tanggung-tanggung perusahaan susu juga membayar dokter kelas atas untuk membenarkan isu ini dengan argumentasi ilmiah, agar produk susunya laku keras. Tetapi sejauh mana isu itu bisa dipercaya? AA (Arachidonic Acid) dan DHA (Docosahexaenic) memang salah satu faktor yang berperan penting dalam pertumbuha membran sel saraf dan pengaturan neuro transmitter di otak. Namun, pemberian suplemen AA dan DHA tidak meningkatkan secara signifikan terhadap pengukuran kecerdasan mental bayi, kecerdasan motorik, dan kemampuan bahasanya. Dengan fakta ini American Council of Science and Healh menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti ilmiah untuk mendukung suplementasi AA dan DHA pada susu formula bagi bayi normal.
Bagaimana dengan bayi tidak normal?Bagi bayi tidak normal memang dianjurkan menggunakan suplemen AA dan DHA, yaitu pada bayi yang lahir prematur. Bayi-bayi lemah ini belum bisa mensintesis sendiri AA dan DHA dari prekursornya sehingga perlu dibantu dari luar.
Perlu diketahui bahwa Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan bahkan WHO serta FAO memberikan rekomendasi penambahan AA dan DHA hanya untuk susu formula bayi prematur.
Apakah produsen susu formula selalu menganggap bayi kita yang montok itu prematur?ini pelecehan. Bayi kita tentu saja sangat sehat dan cukup usia dalam kandungan sehingga (menurut IDAI, WHO, FAO) tidak perlu mengkonsumsi susu kaleng ber-AA dan DHA yang laris dijual itu.Artikel pembanding : lita.inirumahku.com
bersambung....
Tidak ada komentar :
Posting Komentar