Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/04/13/ITR/mbm.20090413.ITR130022.id.html
Bunuh Diri
Malaise yang Memicu Pelatuk Kasus penembakan anggota keluarga dan bunuh diri
kian banyak ditemukan di Amerika. Akibat tak tahan menanggung krisis
ekonomi.
Hidup, bagi James Harrison, adalah serpihan tanpa bentuk: pekerjaan sebagai
petugas jaga malam tanpa tunjangan tetap, lima anak yang butuh makan, dan
seorang istri yang terus-menerus menyalakan api pertengkaran.
Pekan lalu, Harrison mengakhiri hidupnya yang pepat dengan cara
mengenaskan. Ia menembak kelima anaknya, yang masih tertidur pulas di kamar
mereka, lalu menembak kepalanya sendiri di sebuah mobil.
Polisi Pierce County, Auburn, di Negara Bagian Washington, menemukan mayat
Harrison di dalam mobil yang mesinnya masih menyala, Sabtu dua pekan lalu.
Setelah menyisir lokasi, sekitar delapan jam kemudian mereka menemukan
kelima anak Harrison di rumah mobilnya. Empat ditemukan bersimbah darah di
tempat tidur dan seorang lagi di kamar mandi. Mereka berusia 6-14 tahun.
”Ya, Tuhan! Mereka tampak seperti peri-peri kecil yang sedang tidur,” kata
Kepala Polisi Paul Pastor.
Para tetangga yang tinggal di dekat rumah mobil Harrison mengatakan pria 34
tahun itu gemar menyiksa anak. Dua tahun lalu, mereka pernah mengadukan
Harrison ke bagian pengawasan anak. ”Setiap hari, Anda bisa mendengar
anak-anak malang itu menjerit kesakitan,” kata Carolyn Bader, seorang
tetangga.
Beberapa jam sebelum peristiwa penembakan, menurut para tetangga, Harrison
sempat bertengkar dengan istrinya, Angela. Teriakan pertengkaran menggema ke
rumah-rumah sebelah. Setelah itu, dengan tergesa-gesa sang istri keluar dari
rumah.
Seorang kerabat Harrison mengatakan pasangan itu sudah lama tak cocok.
Kebiasaan Harrison yang gemar memukul dan pekerjaannya sebagai petugas jaga
malam di sebuah pabrik dengan gaji kecil dan tanpa tunjangan menjadi pemicu
pertengkaran. Sang istri bahkan mengancam akan meninggalkan Harrison.
Kasus penembakan ini menggenapi peristiwa serupa yang terjadi dalam beberapa
bulan terakhir di Amerika Serikat. Hanya sepekan sebelum kasus Harrison, di
Santa Clara, California, Karthik Rajaram membunuh istrinya, dua anak mereka,
dan ibu mertuanya, kemudian bunuh diri.
Dalam secarik kertas yang ditemukan di sebelah mayatnya, pria yang bekerja
sebagai manajer keuangan di anak perusahaan Sony Picture ini mengaku tengah
dililit krisis keuangan setelah dipecat dari perusahaan itu. ”Ini keputusan
yang lebih terhormat,” tulisnya.
November tahun lalu, seorang pria juga menembak istri, dua putri mereka, dan
dirinya di Akron, Ohio. Padahal pria itu dikenal sebagai orang yang santun.
Seorang tetangga menceritakan anak-anaknya bahkan belajar piano dari pria
itu. Kerabatnya mengatakan pria itu berbuat nekat karena tak menemukan cara
membayar kredit rumah setelah diberhentikan dari pekerjaan.
Kecenderungan menembak anggota keluarga yang berakhir dengan bunuh diri ini
menimbulkan kekhawatiran di kalangan psikolog dan peneliti kejiwaan di
Amerika. Dr Edward Charlesworth, psikolog klinis di Houston, bulan lalu
mengadakan penelitian tentang korelasi bunuh diri dan krisis ekonomi.
Berdasarkan penelitian itu, ia menyimpulkan orang akan cenderung berbuat
nekat dalam tekanan ekonomi.
Penelitian ini dikuatkan dengan bukti kian naiknya pengaduan yang masuk ke
pusat-pusat bantuan pencegahan bunuh diri. Menurut Virginia Cervasio,
Direktur Eksekutif Samaritans of New York, yang menangani keluhan bunuh
diri, penelepon umumnya mengadu tak mampu lagi menanggung beban hidup
setelah krisis keuangan mendera.
Sepanjang tahun ini saja, Switchboard of Miami, lembaga bantuan lainnya,
merekam 500 panggilan yang berisi keluhan senada. ”Mereka mengeluh sudah
tak punya apa-apa, kehilangan rumah, pekerjaan, mobil,” kata Ann Malone,
salah satu petugas.
Krisis finansial sejak tahun silam memang menghancurkan sendi ekonomi
keluarga di negara adidaya itu. Lebih dari empat juta warga Amerika kini
menghadapi jatuh tempo utang properti. Mortgage Bankers Association, yang
mengurus kredit perumahan, mencatat sudah 500 ribu dokumen penyitaan yang
selesai diproses. Tahun ini diperkirakan jumlah itu akan meningkat drastis.
”Sejarah menunjukkan kehidupan keluarga Amerika yang mapan memang mudah
rapuh jika krisis ekonomi melanda,” kata Charlesworth.
*Angela Dewi (AP, Latimes, Nytimes)*
sudahkah kita renungkanpotret buram mayoritas kehidupan keluarga di AS, Benang merahnya sangat mungkin adalah ekonomi. Jadi? Faktor iman mungkin luput dari atensi manusia di manapun selama ini. Pelajaran berharga yang
berarti hanya buat mereka yang memang mau memikirkannya.
Ayo, jangan wariskan watak dan sikap materialisme kapitalis kepada anak-anak
kita, generasi penerus ummat dan bangsa ini.
Kamis, 16 April 2009
Info Ummi
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar