Jumat, 17 Desember 2010

Kaya dengan Menanam Pohon







Di sebuah desa nampak seorang anak belasan tahun berjalan bersama ayahnya. Mereka berasal dari keluarga kaya. Ayah dan anak ini sudah menghabiskan waktu berkeliling ke berbagai tempat untuk mengajari makna hidup. Namun mereka sepertinya tidak mendapatkan tempat yang memberi kesan yang menghujam dalam hati.

Suatu ketika, mobil mereka berhenti di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Mereka tertarik dengan pemandangan alami desa itu. Hamparan ladang dan sawah yang menghijau. Burung berkicau sangat merdu. Dari jauh terlihat perkampungan di tengah sawah yang dikelilingi pepohonan. Mereka sangat tertarik dengan perkampungan yang masih banyak pepohonannya.

Sang Ayah mengajak anak satu-satunya berjalan menuju kampung itu untuk melihat lebih dekat kehidupan masyarakat desa. Mereka melihat-lihat pemandangan dan aktifitas masyarakat tanpa mengganggunya. Ayah dan anak itu sangat menikmati kegiatan ini hingga meninggalkan mobilnya di jalan. Mereka berdua menyusuri jejalanan desa dengan pandangan takjub.

Tibalah mereka di sebuah gubuk di bawah rindangnya pohon yang buah-buahnya sedang ranum. Ayah dan anak ini kemudian duduk melepas lelah sambil menikmati teduhnya naungan pohon dan sejuknya semilir angin sore. Sang Ayah kemudian memulai pembicaraannya.

”Anakku, .apakah kamu senang dengan perjalanan kali ini?” ”Sungguh menakjubkan, Ayah! Baru kali ini aku merasakan perjalanan yang sangat berkesan.” jawab sang anak penuh semangat.
”Apa yang membuatmu sangat terkesan, Nak?” tanya sang Ayah penasaran. ”Pohon-pohon ini dan mereka yang merawatnya, Ayah. Ternyata mereka lebih kaya daripada kita karena memiliki pohon-pohon itu.” anak itu menjawab perlahan. Ayahnya mengangguk pelan. Ia yakin anaknya punya alasan yang akan membuatnya kagum.

”Coba terangkan alasanmu, Nak. Mengapa mereka lebih kaya?”

Sang anak menghela nafas sejenak.
”Ayah, kita memerlukan kendaraan mewah yang bisa mengantar kita tanpa terkena panas dan hujan. Tapi mereka punya pohon-pohon yang menaungi mereka dari panas dan hujan.”
” Kita punya seekor tupai dan tiga ekor burung yang dibeli dengan harga mahal. Sementara tupai dan burung-burung itu datang sendiri dan bersarang di pekarangan mereka yang rindang.”
”Kita membeli AC dan kipas angin untuk mengusir panas. Sementara mereka memiliki udara yang segar dan bersih dimana pun mereka bekerja dan beristirahat.”
”Kita harus membeli buah-buahan, rempah-rempah dan obat untuk kebutuhan kita. Mereka tinggal memetik, memungut, meramu dan menghidangkan semuanya dari kebun mereka sendiri.”
”Kita harus membeli kayu yang mahal untuk memperindah rumah kita. Mereka tinggal mengambil sendiri di depan rumahnya, kapan saja mereka mau.”
”Kita memagari rumah dan membuat dinding tinggi agar aman dari terik matahari dan angin kencang. Mereka mempunyai pepohonan yang melindungi dan membuatnya aman dari gangguan cuaca.”
”Kita minum dan mandi dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Mereka bebas mandi, mencuci dan minum air dari sungai yang dikeluarkan dari kumpulan pohon-pohon , Ayah.”
”Kita datang kemari dengan menyisihkan tabungan berbulan-bulan untuk melihat pohon-pohon ini. Mereka tiap saat menikmati pemandangan dan suasana alami dan memetik hasil darinya.”
Ayahnya mendesah. Ia sangat puas dengan jawaban anaknya. Sang Ayah ingin memperkuat renungan anaknya.

” Ini semua karena keberkahan dari menanam dan merawat pohon, Anakku. Mungkin juga berkat doa-doa yang dipanjatkan burung, tupai, cacing dan makhluk lain yang bisa hidup nyaman karena tumbuhnya pohon. Mereka tidak hanya kaya dengan pepohonan, Nak. Mereka juga kaya hatinya. Mereka menikmati apa yang Tuhan berikan dengan rasa syukur dan memelihara alam ini.”

”Jadi, menanam pohon bisa kaya, Ayah. Kaya dunia dan akhirat.” Sang Anak menimpali

”Betul,betul, betul” Canda Sang Ayah

”Kalau begitu, kita harus pulang membawa oleh-oleh bibit pohon lalu ditanam di halaman belakang rumah kita, Ayah.”

”Siap, Jenderal” Sang Ayah mengangkat tanganya menirukan penghormatan tentara.

”Hahaha....” mereka tertwa lepas di kebun desa.

Angin sepoi-sepoi menghembus menyejukkan suasana riang ayah dan anak itu. Mentari sore tersenyum menuju peraduannya. Burung-burung berkicau merdu seolah mengucapkan salam perpisahan pada orang manusia yang mencintai alam itu.

Semilir angin mengiringi langkah mereka menembus persawahan menuju mobil yang ditinggalkannya sejak pagi. Mentari sore mengiringi perjalanan pulang ayah dan anak ini. Mereka telah mendapatkan hikmah dari perjalanannya. Hikmah dari lukisan alam-Nya.

Oleh : Achmad Siddik Thoha
Info Ummi Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar