Secara adat, pernah ada istilah Kawin Jago. Demi mendapat menantu yang memenuhi semua kriteria, para pembesar Jawa –konon- kerap mengajak anak laki laki pilihan ke dalam lingkungan rumahnya. Di rumah itulah si calon mantu diajari dan dididik oleh calon mertuanya tentang banyak hal. Banyak hal distandarisasi. Dengan cara ini, sang mertua tidak akan kecewa –atau kecil kemungkinannya mengalami kekecewaan. Karena sang menantu sudah sesuai –tepatnya disesuaikan- dengan standar subyektif sang mertua.
Rasanya kita tidak selalu harus demikian. Maksud saya, tidak harus dengan cara itu. Cara itu rawan. Mendekati calon menantu dengan cara itu mungkin tidak demokratis. Calon menantu berada dalam posisi yang tidak egaliter. Meski ada positifnya, tampaknya perlu ada cara lain untuk memastikan kualitas menantu.
Persoalan pentingnya adalah bahwa (calon) menantu itu lolos dalam uji fit and proper berdasarkan Establish Criteria yang ditentukan oleh calon mertua. Maka, kata kuncinya adalah standarisasi.
Sepanjang standar kita sama, kita bisa meminimalkan kekecewaan. Sebaliknya, semakin banyak bias dari standart, semakin mungkin pihak-pihak yang terlibat – mertua, anak, dan menantu- akan kecewa. Memilih menantu dengan standarisasi yang sama – maksud saya seoptimal mungkin mencari kesamaan- adalah prinsip, sedangkan caranya bisa dimodifikasi.
Berbagai forum bisa digunakan untuk itu. Ada reuni, ada lingkungan kantor, ada lingkungan kerja, lingkungan bisnis, dan mungkin juga klub klub yang kita aktif terlibat di dalamnya. Termasuk forum halaqoh, liqo, pengajian, majlis taklim dan sejenisnya. Di forum forum itulah kita harus saling menumbuhkan optimisme untuk terus menjada keluarga kita dan semakin kokoh memastikan keluarga sakinah mawaddah dan keluarga penuh rahmah. Di forum itulah kita saling menasehati untuk kebaikan dan kesabaran. Karena semakin banyak keluarga yang memenuhi standar pendidikan anak secara Islami, semakin sedikit kemungkinan kita kecewa. Forum forum kita akan memiliki efek berantai, jika kita mau.
Semakin banyak orang tua yang trampil dan keluarga yang sakinah mawaddah dan keluarga penuh berkah berarti semakin kecil kemungkinan kita kecewa pada anak-anak dan pasangannya kelak. Maka menjadikan diri sebagai orang tua terampil dan keluarga yang kokoh adalah tugas kita semua. Agar kehidupan ini tak meluncur drastis ke titik nadir dan agar nilai nilai kemanusia terselamatkan. Alangkah bahagianya rasa di hati jika kita menjadi bagian yang menyelamatkan kualitas kehidupan.
Eko Novianto

Tidak ada komentar :
Posting Komentar