Selasa, 02 Februari 2010

Keluarga dan Peradaban


Ketika seorang pejuang merencanakan membangun keluarga, yang pasti harus tergambar sejak awal di dalam benaknya adalah ia merencanakan sebuah peradaban. Ini logis karena nafas yang ia hirup selama ini adalah nafas gerakan peradaban. Bahkan tanpa ruh gerakan peradaban itu nampaknya keberadaannya sia-sia saja.

Keluarga pada hakekatnya adalah miniatur dari amal jama’i (kerja sama) dalam skala peradaban. Di dalamnya penuh dengan misteri tentang proses ta’aruf (saling tahu), tafahum (saling paham), ta’awun (saling membantu) dan takaaful (saling menanggung). Butuh waktu dan komprehensitas pendekatan untuk menjadi saling tahu, saling paham, saling membantu dan saling menanggung hingga menjadi sebuah ultra team bernama keluarga.

Bayangkan, si lelaki lahir dalam situasi ekonomi, politik, sosial budaya dan kemanan yang sama sekali berbeda dengan si perempuan. Si lelaki dididik oleh guru yang berbeda dengan si perempuan. Sang guru bisa jadi mengarahkan ABC (affective, behavioral, cognitive) si lelaki sesuai dengan kemampuan komprehensitasnya yang tentu berbeda sekali dengan guru si perempuan. Tapi demikianlan, mereka bertemu menuju sebuah 'ultra team' yang tak tergoyahkan dengan izin Allah.

Bandingkan dengan ombak, laut, perdu, cemara dan burung-burung yang dapat bersatu dalam satu syair. Bandingkan juga dengan asam, laos, garam, cabai, daun melinjo yang dapat bersatu dalam satu kuali dengan nama baru, sayur asam. Bandingkan juga dengan mesiu, senapan, meriam, tank, pedang dan tombak yang dapat bersatu dalam satu novel. Keanekaragaman dan perbedaan mereka memperindah tujuan. Lelaki dan perempuan pejuang pastilah dapat bersatu dalam satu lembaga cita-cita besar bernama peradaban Islam.

Bukan berarti bahwa identitas masing-masing pihak hilang. Bukan berarti bahwa aku tiada. Aku tetap eksis dan menyatu dengan aku-aku peradaban yang lain. Aku bagi dirinya sendiri tak akan pernah memiliki makna dan bahkan menjadi sebuah keangkuhan semacam setan. Dan kita dapat belajar banyak kepada aku Abu Bakar, aku ‘Umar, aku Utsman, aku Ali, aku Umar bin Abdul Azis dan sekian banyak aku yang bergerak dalam satu kesatuan gerak strategis bernama Aku.

Tetapi cita-cita besar peradaban Islam tak akan pernah tercapai kecuali sumber daya pendukungnya adalah sumber daya yang berdaya dan memiliki kemampuan kreatif. Berdaya berarti mensyaratkan kekuatan, sementara kreatif mensyaratkan konsistensi dan kejelian. Karena keluarga yang tidak berdaya menghadapi tantangan hanya akan disibukan oleh permasalahan internalnya. Keluarga yang tidak kreatif mengendalikan tantangan adalah keluarga yang jumud dan tanpa warna. Keluarga yang tak dapat memberi manfaat kecuali bagi dirinya sendiri.

Karena jauhnya langkah dan besarnya cita-cita maka strategi menjadi kemestian. Tanpa strategi, kegagalan menghadang di depan mata. Tanpa strategi anak adalah beban. Tanpa strategi kekayaan adalah fatamorana dan tanpa strategi tangis dan tawa adalah sia-sia. Strategi adalah standar kualitas keluarga gerakan. Dengan strategi, keluarga menjadi perkasa menantang zaman. Anak-anak adalah aset masa depan. Harta benda peretas jalan serta tangis dan tawa adalah hiasan.

Strategi dilakukan dari melakukan analisa internal suami dan istri. Kemudian keluarga suami dan istri. Keluarga besar. Kemudian analisa eksternal yang terkait dengan keluarga, kantor, situasi politik, ekonomi, sosial budaya sekitar dan gerakan.

Pasca analisa berdasar data yang akurat dan skoring hasil analisa, barulah sebuah keluarga menyusun visi keluarga gerakannya dan strategi keluarga gerakannya. Keluarga gerakan pastilah melakukan breakdown terhadap visi besar keumatan bagi visi keluarganya, demikian juga ia melakukan breakdown atas strategi besar keumatan ke dalam strategi mikro keluarganya. Dengan itu, keluarga itu menjadi bagian dari kafilah besar peradaban Islam yang penuh barokah dan rahmah.

Jika setiap keluarga memiliki visi besar dan strategi besar keumatan, layaklah jika para aktivisnya berharap tentang masa depan ummat Islam dan peradabannya. Layaklah jika para nabi menyebutnya separoh taqwa. Layaklah jika Allah menyebutnya sebagai 'mitsaqon gholidzo'.


*tulisan Agus Purnomo (a.k.a Gus Pur)
Info Ummi Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar